Anak Mantan Presiden Sri Lanka Ditangkap, Ada Dugaan Korupsi Airbus di Baliknya
Badan antikorupsi Sri Lanka menangkap Namal Rajapaksa terkait dugaan korupsi pembelian pesawat Airbus pada 2013 yang turut menyeret keluarga mantan presiden Mahinda Rajapaksa.

Komisi Penyelidikan Dugaan Suap atau Korupsi Sri Lanka (CIABOC) memanggil Namal untuk memberikan keterangan mengenai transaksi tersebut. Penangkapan ini kembali menyorot keluarga Rajapaksa yang selama bertahun-tahun punya pengaruh kuat dalam politik Sri Lanka. Simak ulasan lengkapnya dari FAKTA HITAM.
Namal Rajapaksa Ditangkap dan Langsung Dihadapkan ke Hakim
CIABOC mengatakan Namal, yang kini berusia 40 tahun, datang memenuhi panggilan penyidik untuk menjalani pemeriksaan. Setelah proses tersebut berlangsung, penyidik kemudian menangkapnya dan membawanya ke hadapan hakim.
Pengadilan Kolombo selanjutnya memerintahkan Namal menjalani remand custody setidaknya sampai 18 September 2026. Keputusan itu membuat proses hukum terhadap putra Mahinda tersebut memasuki tahap yang lebih serius.
Penangkapan Namal bukan kasus terpisah dari penyelidikan transaksi Airbus. Otoritas antikorupsi tengah menelusuri dugaan aliran dana yang muncul dari kesepakatan pembelian pesawat yang terjadi ketika Mahinda masih menjabat sebagai presiden.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Dugaan Suap Rp100 Juta Rupee Mulai Diselidiki
Otoritas antikorupsi menduga Namal menerima suap sekitar 100 juta rupee dari seorang pengusaha Sri Lanka. Pembayaran tersebut diduga berlangsung beberapa kali selama 2014 hingga 2015.
Penyidik mengaitkan dugaan tersebut dengan aliran dana sebesar US$800.000 dari transaksi Airbus menuju rekening perusahaan milik pengusaha tersebut. Dugaan inilah yang kemudian menjadi salah satu fokus pemeriksaan terhadap Namal.
Pengacara Namal, Nishantha Dayananda, membenarkan bahwa penangkapan kliennya berkaitan dengan transaksi pembelian pesawat senilai US$2,3 miliar. Kesepakatan itu sendiri akhirnya batal setelah pemerintahan baru mengambil alih kekuasaan pada 2016.
Baca Juga:Â Aset Dadan Hindayana Disita Kejagung, Tersangka Korupsi MBG Punya Harta Sebanyak Ini
Mahinda Rajapaksa Juga Pernah Diperiksa
Nama Mahinda Rajapaksa ikut muncul dalam penyelidikan yang sama. CIABOC sebelumnya memeriksa mantan presiden tersebut pada Mei untuk mendalami dugaan penerimaan suap dari transaksi pembelian pesawat.
Penyidik menduga Airbus menyalurkan sebagian dana dari transaksi tersebut kepada sejumlah pejabat senior dan politikus Sri Lanka. Keluarga Rajapaksa membantah tuduhan tersebut dan menyebut perkara korupsi yang menjerat mereka bermotif politik.
Kasus ini menjadi perhatian karena transaksi Airbus berlangsung ketika Mahinda memimpin Sri Lanka pada periode 2005 hingga 2015. Pemerintah saat itu menyetujui pembelian 10 pesawat Airbus untuk SriLankan Airlines.
Mantan Bos SriLankan Airlines Beri Kesaksian Mengejutkan
Mantan kepala eksekutif SriLankan Airlines, Kapila Chandrasena, sebelumnya memberikan keterangan kepada penyidik mengenai dugaan pembayaran suap. Pada Maret, Kapila mengatakan dirinya menyerahkan uang hampir setengah juta dolar AS kepada Mahinda.
Berdasarkan keterangan di pengadilan, Kapila awalnya mengaku membayar Mahinda sekitar 60 juta rupee atau sekitar US$461.000 berdasarkan nilai tukar saat itu. Pembayaran tersebut disebut berlangsung dalam tiga tahap pada 2013.
Namun, Kapila kemudian menarik kembali keterangannya. Ia mengaku memberikan pernyataan tersebut karena mendapat tekanan. Situasi semakin rumit setelah Kapila ditemukan meninggal dunia di rumah seorang kerabat pada Mei, tak lama sebelum jadwal penangkapannya kembali. Sampai sekarang, penyebab kematiannya belum diketahui.
Skandal Airbus Ikut Menambah Beban SriLankan Airlines
Penyelidikan yang melibatkan otoritas Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis sebelumnya menemukan bahwa Airbus menyetujui pembayaran suap sekitar US$16 juta di Sri Lanka. Dari jumlah tersebut, sekitar US$1,7 juta mengalir kepada Kapila sebelum skandal tersebut terungkap.
Kasus ini juga memperlihatkan persoalan keuangan yang cukup berat di SriLankan Airlines. Maskapai nasional tersebut mencatat kerugian yang diperkirakan hampir US$2 miliar. Sejumlah upaya untuk memprivatisasi perusahaan yang terlilit utang itu juga berulang kali menemui kegagalan.
Dengan penangkapan Namal, penyelidikan kini kembali menjadi sorotan publik. Penyidik masih harus mengurai aliran dana, pihak-pihak yang diduga terlibat, serta hubungan transaksi tersebut dengan keputusan pembelian pesawat pada masa pemerintahan Mahinda.
